Pages

  • Portfolio
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
youtube google+ twitter instagram
Bengkel Sastra

  • Home
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Kontak
    • Kepengurusan
  • Berita
    • Sastra
    • Budaya
  • Kategori
    • Puisi
    • Ulasan
      • Puisi
      • Cerpen
      • Naskah Drama
      • Novel
      • Film
      • Pertunjukkan Teater
    • Cerpen
    • Naskah Drama
    • Pementasan Teater
  • Info Acara
  • Karya

Pencarian

Oleh: Juju Junengsih


Kau menyelami ujung kaki yang tidak selalu memapah pergi

Barangkali yang dicari-cari, terselip di antara jari-jari kram yang menggigil ketakutan.

Kemudian kau berlari menuju pusar

Barangkali yang membuat gusar, meringkuk di sana dengan gemetar.

Kau menyelinap mendekati jantung

Barangkali yang dicari-cari, berbaur dengan pompa darah dan mengalir ke ubun-ubun menciptakan rasa marah.

Kau mencari ke kepala, ke juntai rambut, ke ujung kuku, ke sepanjang nadi, ke mana yang kau tidak pernah menemuinya.

Sampai kau tidak sempat mengukur lelah

Juga menjamah kehilangan yang minta berserah.


Januari, 2022

0
Share

Sajak Kereta Api

Oleh: Nunung Asmawati


Kabin disesaki koper-koper yang lebam

Seseorang duduk tenang memangku kelam

Di dalam kopernya ada lima impian dan lima kesalahan

Cukup membuat warna abu-abu untuk kertasnya yang buram


Jumpa adalah bagian kehidupan yang nyata

Tempat membuatnya lebih kejam dan menyiksa

Sehingga pisah adalah jalan satu-satunya memisahkan raga

Pujangga itu berkata-kata dengan matanya


Hai, pujangga dengan buku usang

Mana yang lebih menenangkan bagimu di antara syair dan inspirasinya?

Mana yang lebih menyakitimu di antara jumpa dan yang dijumpa?

Mana yang lebih mudah ditahan di antara rindu dan umpatan untuk suatu pilu?

Gadis itu mengirimkan tanya lewat tatapnya


Kita adalah jumpa yang dikehendaki semesta

Hingga pisah adalah jalan satu-satunya yang ada

Sajak kereta api ditulis tanpa diminta

Hadirnya tak menjadi kompromi untuk mendukung lupa


Sajak kereta api

Disusun bersama dengkur orang tidur

Basah embun subuh

Serta dingin penyejuk di atas kabin


Sajak kereta api

Dalam hitungan sebelas purnama terlewati

Rapi, menenangkan, membuat rindu lagi dan lagi

Juga membuat perih lagi dan lagi






Diadaptasi dari perjalanan penulis

ke kota Kediri



Nunung Asmawati




0
Share

 Membangun Ulang Imaji

Muhammad Izat


Merangkak tubuh penuh peluh

tanpa tangan, tanpa kaki

hanya bertaut pada mimpi

lidah lunak menari, menampar

mengiris tekad yang dikata usang

.

Menitik,

menodai pipi yang lama kotor

mengalir deras membawa khayalan


Terbungkam,

imaji masa depan yang dibangun seribu malam

tercekik pahitnya kenyataan

takdir membenarkan sumpah serapah orang-orang


Tersadar,

manusia hanya boneka dengan perasaan

.

Terasa nyaman dengan pilihan Tuhan

sembari meraba setapak jalan

kerikil kecil melukai tangan

hati masih berharap berganti jalan

walau terpampang batu besar dipersimpangan

.

Cerita sedih diakhir tahun ini

menggenggam tangan untuk bertahan

mengisyaratkan untuk berpisah pada angan

merajut kembali setiap mimpi

membangun ulang imaji

0
Share

Ziarah

Anggun Nuke Arsita


Sempat kau berlari menjemput tepian

ketika kau dalam genangan

kau ditawari teduh yang terseduh

namun kau tanggalkan dayung

memeluk dan melarung


Lembar lembar buku dan bubuk kopi

dalam kepalamu hanya omong kosong

sebab sejumput tinggal

kau berpaling


Elegi elegi manis

kau kecupkan pada reseptor

kembali kau susun kisah kisah

jadi bantal dan penghantar tidur

hingga termenung


Atas dasar apa kau berbalik

sedang bajumu telah mengering

Surainya ingin bersandar

terlelap tegar


Lantas kau semogakan semoga

pada remang pelukan semu

dalam genangan baru

yang terasa sama


Jombang, 28 November 2021

0
Share

Serendipity

Lathifah Nur Awwaliyyah


Aku bosan diterpa hujan.

Aku menolak, menyerap beribu tetes air.

Aku muak, dengan semua tempa.

Yang sebenarnya hanya berulang saja.

Tapi tentu semua ini tidak bisa berakhir.

Demi keseimbangan semesta berjalan tetap baik.

Hey semesta! Kemana pelangiku?

Apakah waktu telah menenggelamkanmu?

Tolong kembalikan ia! Agar seisi duniaku tersenyum kembali

Hey bumi! Coba sadarlah.

Bukankah sudah kukatakan sejak awal,

Buatlah pelangimu sendiri!

Aku tidak bisa memaksanya selalu hadir usai hujanmu,

Karena memang sejatinya semua tidak kekal.

Cobalah berdamai dengan ribuan rinai yang membasahimu

Kelak akan tercipta dengan sendirinya,

Hal-hal baik yang menjadi keberuntunganmu.

Teruslah berjuang membahagiakan seisi dunia,

Sampai aku memberikan bahagia yang sesungguhnya.

***

Puisi ini kubuat sebagai ucapan terima kasih, untuk seseorang yang tidakku sangka kehadirannya. Meski singkat, namun ia memberikan banyak pengalaman dan pengetahuan. Memberikan banyak pesan, canda, dan luka. Yang telah bersedia memberikan pundak, telinga, dan sapuan tangan. Meski kini ia telah pergi, namun hadirnya masih tetap kuharapkan kembali.

0
Share

 Jejak Dini Hari

Karya Gadis Oktafiyanti


Pada pergantian malam dan pagi

Pada tiga puluh menjadi satu

Langit masih menampakkan indahnya purnama


Suara langkah kaki berbunyi

Datang tanpa niat baik

Menghancurkan keheningan

Di rumah para jendral


Suara bedil yang menggema

Membangunkan para insan yang tertidur lelap

Pelurunya menancapkan isi rumah

Ade kecil yang tidak ada salah

Mereka tancapkan peluru ke punggungnya


Para jendral bersiap-siap

Para jendral berdoa

Tetapi mereka keluarkan bedil itu

Ke dada para jendral


Alangkah kejamnya mereka

Tak sampai saat itu

Mereka menyeret bagaikan bangkai hewan


Di markas para penjahat


Tak henti-hentinya mereka menyiksa

Diancam, dicaci, disilet, ditembak

Diseret, dikubur, ditembak pula

Sungguh kejamnya mereka

0
Share

 Goresan Takdir


Dika Amalia Lutfiana


Kau tahu tidak?

Ternyata orang yang paling bahagia bukan yang bergelimang harta

Bukan pula orang yang memiliki jabatan tinggi dengan segudang prestasi

Bukan pula yang selalu berbangga diri




Ternyata orang yang paling bahagia adalah ia yang bisa menerima

Ia terima semua goresan takdir yang diberikan untuknya

Untuk yang masih bisa diupayakan? Tentu saja ia upayakan

Sisanya ia serahkan pada pemilik semesta

Bukan, bukan karena ia pasrah, tetapi karena dia tahu

Ia paham betul bahwa Tuhan-Nya selalu tahu bagaimana menenangkan hati hamba-Nya




Jalan-jalan yang sulit dilewati

Tentu saja tak membuat dia gentar

Tentu saja dia tak menyerah, justru ia kerahkan semua usahanya

Tuhan pasti akan selalu membantu, begitu pikirnya

Ia jadi orang yang ikhlas menjalani kehidupan




Tahun ini aku dapat banyak pelajaran berharga

Hadiah indah yang dikemas bersama canda dan tawa

Tetapi, kegagalan dan penolakan tentu datang

Suka dan duka memang satu pasang, kan?




Tetapi, aku selalu ingin menjadi salah satu orang yang bisa menerima

Menerima semua goresan indah dari Tuhan untuk hidupku
0
Share

AM

Delia Putri Amanda


Kopi dan kertas-kertas di atas meja pukul dua dini hari

dingin, kuseruput, pelan kuhabisi

Barangkali sudah kucampurkan hitam itu dikopi dingin pukul dua

pagi

Barangkali pena di jariku malah bertinta air kopi


Entah, tapi

kopi-kopi dan kertas pukul dua pagi

atau tiga, atau empat dini hari

terasa sama dinginnya dengan hati

aku, yang masih bersama kopi-kopi dan kertas-kertas disini

dan tinta, dan pena, dan kopi-kopi

lagi, kuteguk semuanya malam ini

1
Share

 Gelung Kelakar

Ainun Syafira


Malam-malam beringsut

Kudapati jiwa-jiwa terlelap tetapi bukan mati


Menari diawang-awang mimpi bersama kerumunan rasa

Sedang jiwaku, menyelinap masuk ke lorong-lorong kenangan


Pungut memungut kenangan cendayan yang telah lama terjerat arus waktu

Kudapatibayang-bayangkenangan,dimanakerumunanrasasalingbercakapriang


Dibawah naungan langit beralaskan tanah jiwaku, jiwanya, dan jiwa-jiwa mereka menyatu bersama riuh-riuh lelucon dan gelagak tawa


Sungguh!!!tiada panorama nan cendayan bagi jiwaku, tidak juga mereka dan tidak

juga kau!!!

Kala jiwaku hadir menyaksikan segaris senyum dan gelagak tawa merekah indah di wajah mereka yang kian hari semakin menua bersama arus waktu


Bima,02 Januari 2022

0
Share

 Antara Tuhan, Aku dan Rebahan

Oleh Adriansyah


Kuucapkan terima kasih

Kepada engkau yang memberi kasih

Perihal kasih yang kau beri tak terganti

sekedar memberi informasi


Bahwa Ratih menangis di pojok kamar kata sinetron yang monoton

Malih bergurau dengan bolot menghasilkan tawa si kolot

Berita dan koran mengabari ada si kecil yang susah move on

Memberitahukan semuanya hanya perihal sorot


Layar kaca menampilkan semua ocehan

Orang-orang berbincang perihal kenangan

Aku melakukan rebahan

Hal kecil tentang kesenangan


Jakarta, 2022

0
Share

TINGGAL

KARYA NUR ANDINI SETIAWATI


 sejauh apapun berkelana

kesanalah aku akan kembali

sejenuh apapun merasa

disanalah tempat yang aku singgahi


pundaknya adalah tempat berbagi keluh kesah

tempat dimana aku melepas segala lelah

tempatku berteriak menyampaikan segala amarah

tempatku meredam segala resah


tetapi aku sadar

segalanya telah lama memudar

kini ia layaknya sebuah rumah kosong

ada, namun hampa tak tertolong


akankah kau semakin jauh selepas ini?

yang berhenti berpuisi dalam nestapa pagi

berhenti dalam rasamu yang perlahan mati

atau mungkin kisah ini terlalu dini untuk kau mengerti


haruskah aku meninggalkan

atau kuperbaiki agar kembali tentram

haruskah aku mengulang awalan

atau ku bubuhkan sebuah titik pada malam yang temaram

0
Share

Maturasi dan Asmaraloka

Karya: Putri Dhiaz Aldisa


Tertatih-tatih, tersungkur hingga letih

Terseok-seok, tetapi terus saja diolok-olok

Bagai anjing yang kehilangan induk

Anak semesta itu berjalan di atas daun kelor

Dineschara namanya, kekasih Tanachandra

Berjalan di atas daun kelor

Bagaikan maturasi tiada henti

Bangkit, pamit

Pasrah, tetapi tak menyerah


Asmaraloka Dineschara dan Tanachandra

Bagai nirwana di ujung pandang

Walau badai datang menerjang,

Mereka abadi, takkan pernah terganti


Dineschara berkata,

Jika Rahwana saja dapat menemukan Shinta di dalam sukmanya,

Maka, kau dapat temukan aku dalam sesal matimu


Rasa-rasanya, tak ada kata sesal dalam kisah asmaraku

Maturasi dan Asmaraloka,

Kayu dan api,

Rintik hujan dan lautan,

Dineschara dan Tanachandra,

Kini, kau mengerti, kan?

Mengapa kata “kita” itu tercipta?


Sampai jumpa, Tanachandra

Aku harus kembali ke rahim semesta

Kau abadi dalam relung sukmaku

Tapi diriku, abadi dalam sesal matimu

0
Share

Gejolak rindu

Oleh: Renaldi Saputra


Rindumu yang sampai,

Rindumu yang tabah,

Rindumu yang suci,

Yang kau dambakan pada cakrawala.


Simpan saja sedihmu itu ...


Rindumu ...

Kini sampai padaku.

Menghujam tepat didadaku.

Rasamu berperan dalam sanubari.


Duhai engkau yang diam membisu ...


Airmataku puisi.

Sebagai perantara kerinduanku.

Dilarik-larik sajakku dan sajakmu.

Aku menemukanmu dalam diriku.

Sebagai penawarnya.


Bacalah!


Aku melihat wajahmu.

Sajakku bernyawa tentangmu.

Aku mendengar suaramu.

Sajakku terbalaskan darimu.


Bacalah!


Sajakku merapalmu ...

Yang aku wujudkan dalam bentuk aksara.

Sebagai pelipur lara dari kerinduan.


Sebab bagiku,

Soal rindu bukan perkara jarak,

melainkan kesatuan rasa.

Pertemuan ataupun perpisahan.

Bukanlah masalah jika tidak ada rasa.


Aku tetap memahatmu dalam diriku.

Mengenggam erat hati yang terikat.

Memeluk mesra jiwamu yang gelisah.

Dengan airmata cinta.

0
Share

 KEMANA

Karya: Romi Afinyuda


Beku, hampa, dan kosong

Tak tau kemana harus melangkah

Sampai tiba di suatu titik

Titik sadar bahwa telah jauh melangkah tanpa arah

Titik yang dapat melihat jejak kaki yang ditinggalkan

Jauh.....

sangat jauh untuk jalan melangkah...

Tanpa kompas, tanpa petunjuk, tanpa komando, dan tanpa aba-aba

Semuanya Hilang...

Sirna dengan sekejap mata

Melangkah ke depan akan bertemu dengan samudra ganas

Mundur ke belakang akan masuk dalam jurang dalam

Melihat ke kanan dan kiri akan ada hutan gelap dengan pohon besar mencekam

Lihat!Lihatlah bayangan itu

Bayangan itu semakin besar

Besar dan terus membesar

Hitam menakukan

Hitam besar yang akan membinasakan apapun yang ditemuinya.

Lari! larilah dengan sekuat tenaga yang tersisa

Tapi harus kemana.....

jika didepan samudra ganas, jika di belakang jurang dalam, dan jika di kanan dan kiri

hutan gelap.

Bukannya sama saja akan binasa?

Lantas, kemana harus berlari?

Dimana tempat aman untuk bersembunyi?

Entahlah

Sepertinya titik ini, titik terakhir dalam perjalanan

Titik terakhir, dalam teks cerita panjang, Cerita tentang hilangnya akal dalam pikiran

Sepertinya ini titik terakhir untuk merencanakan kemana seharusnya melangkah

Melangkah hingga netra menangis melihat tujuan akhir yang selama ini dicari

Kemana harus menuju?

Apakah melewati samudra itu?

Ataukah masuk ke dalam jurang itu?

Atau lewat hutan itu?

Atau mungkinkah disini dititik ini adalah tujuan akhir? Yang mungkin tidak disadari

Sungguh membingungkan berjalan tanpa adanya arah


Pembuat Jejak - 01-01-2022

0
Share

Beduak Tanah Jakarta

Gheani Kirani


Sumber ilustrasi: Pixels

 

​Panas, candu, tapi perjalananmu masih jauh. 

​Tidak ada yang bisa disalahkan tatkala sepuluh jemari yang terbungkus sepatu bersol tipis itu menyusuri bahu-bahu jalan Batavia. Roda-roda bus kota membuangmu ke pelataran pasar tua, tempat dimana bisa kamu saksikan tulisan legendaris tergantung di langit-langit kota. Kamu berdiri di poros muka kota yang bungkuk, dikepung arsitektur Eropa yang terlalu kuno dan sentuhan kuas Tiongkok yangmemekarkan aroma kue bulan.

​Pasar Baru terlalu pelik untukmu, hanya puncak-puncak toko yang menjilat udara dan kidung Natal yang dikumandangkan di beberapa sudut. Selebihnya hanya tersembul pucuk-pucuk kepala manusia yang saling bertemu, membentuk gelombang paus yang menangis kesepian di belantara laut. Kepalamu sendiri sengaja ditinggalkan di kolong kasur, bersama butiran garam dari air mata yang mengeras ketika tumpah ruah di keramik kamar. Isi otak yang dibalut kulit manusia itu terlalu berisik dan penuh kebencian, kamu tak bisa membawanya jika ingin meliput tugas paling penting dalam sejarah kehidupan.

Sorot matamu membingkai Pasar Baru dalam hitungan tak berujung, tapi tetap tak ada yang istimewa, bahkan jika itu adalah semerbak parfum tahun 1820 yang masih menguar dari etalase toko-toko lesu. Tetap tidak ada yang menyenangkan, kecuali dadamu yang membengkak bagai balon dan siap terbang jauh atau meletus dipatuk burung-burung gemuk.

​Kamu mengetuk setiap kekacauan di sana, mencoba membangun sarang di kubangan toko-toko antik yang sepi pengunjung. Juntaian benang hitam yang menempel di kepalamu sejak lahir itu sudah lebih buruk dari kata kusut. Lapisan porselen putih yang tertata sempurna di wajahmu sudah kusam, debu dari segala knalpot dan cerobong pabrik baru saja selesai membangun pemukiman di sana. 

​Sekarang sudah hampir Natal, seharusnya kamu sedang sibuk menggantungkan pernak-pernik bintang dan kijang di dahan pohon Natal. Atau menarikan tarian santa dalam balutan kostum merah dan janggut putih panjang yang meliuk-liuk jenaka. Mungkin juga menghabiskan persediaan kue bolu di pelosok lemari sembari menonton film membosankan tentang anak yang terkunci sendirian dalam rumah. 

​Namun, penghujung Natal tahun ini berbeda. Kamu malah sibuk memotret setiap lekuk memesona Pasar Baru dengan kamera ponsel yang kadang berembun. Berteman kaos putih sederhana, jaket hitam yang menggembung di tubuh, dan celana denim yang terlalu sering dipakai saat ke kampus. Sementara buku catatan kecil yang tenggelam di saku jaketmu masih kosong, tidak ada seberkas bahan liputan yang lahir di sana. Padahal besok kamu harus bertatap muka dengan para kutu buku menjengkelkan, lalu menyerahkan dirimu terjebak dalam suasana sidang yang agak memilukan untuk diingat selamanya.

​“Aku rindu Vincent. Seandainya dia ada sini.” Keluhanmu mengepak bersama putaran sayu angin dan daun-daun kering. “Ah, tapi dia kan sudah suka dengan orang lain.”

​Kamu berjalan lagi, menyusuri senja yang baru pecah di langit Jakarta dan mengotorinya menjadi semerah bayi telanjang tak bergigi. Kamu menggigil menyaksikan semburat kuas itu menyeka awan-awan lalu mengusungnya pergi. Belum ada pemilik toko yang bersedia menerima gumpalan pertanyaan dari buku catatanmu, mereka bilang akan terlalu membosankan dan rumit. Kamu hanya bisa meletuskan deru napas yang berat dan beku, sembari melayangkan manik hitammu ke muka antik Pasar Baru yang tak pernah sepi.

​Semerbak aroma bumbu pecel, kepulan uap dingin dari gerobak es potong, minuman warna-warni dalam kotak-kotak kaca, dan pedagang kerak telor yang menggosok panci gosong dengan penuh semangat. Hanya pemandangan itu yang dapat menghiburmu. Setidaknya mengurai denyut di kedua kakimu yang mulai muak menjelajahi Pasar Baru. 

​“Akan lebih baik jika aku tak memaksakan pergi ke sini.”

​Kamu menggerutu, rutukmu menampar semarak lampu toko dan bahu orang-orang yang berjalan berhimpitan. Kamu harus segera menemukan pemilik toko baik hati dan menulis liputan. Kalau tidak, mati saja. Senior penggila buku itu akan berceramah tentang betapa tidak becusnya seorang mahasiswi Sastra Indonesia. Wajahmu memerah serupa bumbu pecel yang dituang ke atas sayuran. Kamu berjalan lagi, tersenyum, bertanya ramah.

​“Selamat sore, Pak. Saya anggota UKM Jurnalistik yang ingin meliput toko antik ini. Apakah Bapak berkenan?”

Kacamata berbingkai perak itu merosot. Pria beruban itu melipat koran lalu mengusir seorang remaja yang menyeringai lebar di teras toko. “Nggak. Nggak. Saya nggak punya waktu. Toko ini biasa-biasa aja, toh.”

​Kamu tidak menyerah, tentu saja. Lanjut bertanya dengan menawarkan senyum paling ramah untuk mendapat jawaban yang terus sama. Tidak. Tidak. Tidak. Huh, sangat sial. Gerutu tak berdaya mengantarkan kakimu melewati puluhan toko, berbelok mencicipi gang sempit, sampai akhirnya telantar di hadapan barisan toko busana. Ponsel berdaya sekarat di sakumu bergetar dan memberi kata-kata ejekan.

​“Bagaimana liputannya, Rai? Lancar.” Orang itu tertawa dan kamu ingin sekali tiba-tiba berubah menjadi pahlawan bercelana dalam merah lalu terbang ke rumahnya. 

​“Nggak sama sekali. Ini karena kamu tiba-tiba mengambil jatah tema liputanku!”

​“Itu karena kamu terlalu lambat.” Teman satu prodimuitu, Rino, mulai berkelakar dengan cara yang tak seru. “Pokoknya semangat! Besok sidang dan peresmian anggota.”

​Kalimat terakhir Rino meledak bagai bom di kepalamu. Kamu terpaksa berjalan lagi, kali ini dengan tekad mencari minuman dingin. Deretan gerobak kaki lima yang bertengger di bahu jalan menarik perhatianmu. Untuk sesaat kamu bingung memilih. Sampai netramu tertancap pada barisan botol-botol air serupa susu keruh dan tumpukan buah hitam di atas gerobak. Buah yang mirip kepala itu menghanyutkanmupada kenangan tiga tahun silam. Kala itu kamu berkunjung ke Kota Tuban untuk menyelami tradisi masyarakatnya sekaligus memuaskan hasrat berpetualangmu. Tapi kamu malah dipertemukan takdir dengan laki-laki itu. Orang yang di hadapanmu sekarang sedang memotong daging buah Siwalan dengan pisau sembari tersenyum.

​“Beduak, sudah lama sekali, ya?” sapamu ramah pada sosok kurus semampai itu. 

​Laki-laki yang disapa menoleh, rautnya teduh, masih seperti dulu. Ia tersenyum, menatapmu yang tiba-tiba datang tanpa memasang status pembeli itu. Kamu jadi kikuk, Beduak rupanya masih mengenali paras manis dan telinga caplangmu.

​“Masih ingat Tuak Siwalan?” tanya laki-laki itu. “Dan bolo ngombe? Juga paviliun beratap kayu tempat kita minum tuak tiga tahun lalu?”

​Kamu mengangguk, ponimu menampar-nampar kening dengan lucu, membuat Beduak tertawa melihatmu.

​“Iya, dong. Aku ingat para buruh yang menyisihkan uang seribu untuk membeli segelas tuak,” katamu antusias lalu memegang leher. “Juga rasa panasnya di tenggorokan.”

​Laki-laki itu tertawa, lalu berkata jahil. “Itu karena kamu meminumnya tanpa cinta.”

​“Cinta?” Kamu mengernyitkan alis. “Omong kosong, Beduak. Aku bahkan nggak pernah paham apa sebenarnya jatuh cinta itu.”

​“Jatuh cinta itu seperti saat kamu meminum air tuak yang disadap dari getah nira di pohon Siwalan. Pucuk bunga Siwalan akan diiris tipis lalu tetesan yang mengalir ditampung dalam bumbung. Kemudian ditaruh dalam bonjor dan difermentasikan dengan kulit pohon. Lalu air tuak yang masih segar dituang ke dalam centak dan siap diminum.”

​Kamu ternganga mendengarkan penjelasan Beduak tentang proses pembuatan tuak. Apa hubungannya dengan cinta? Beduak itu aneh, laki-laki berparas maskulin dengan potongan rambut pendek itu memang aneh.

​“Jatuh cinta adalah proses panjang, seperti tuak. Prosesnya cukup sulit dan melelahkan. Tapi ketika diminum, kita malah merasakan pahit di lidah dan panas serik di tenggorokan.”

​Senyummu keluar malu-malu. Kamu mengerti. “Begitulah cinta. Iya, kan?”

Beduak hanya mengangguk. “Ya. Seperti minuman legen. Sama-sama dari pohon Siwalan dan melalui proses yang hampir sama, tapi legen rasanya manis, asam, dan segar.”

​“Sama seperti cinta, kan? Nggak semua cinta berakhir manis di lidah kita.” Laki-laki itu melanjutkan. 

Beduak terkekeh lalu tiba-tiba memperingati dengan alis tertekuk. “Omong-omong, jangan panggil Beduak. Itu cuma sebutan untuk orang yang minum tuak.”

​Penikmat tuak di depanmu tertawa lagi. Iringan petikan gitar dari pengamen di gerobak sampingmu menambah riuhnya rindu yang bersemi. Kamu duduk di tepi trotoar yang tak kotor, menonton Beduak menghidangkan potongan daging buah untuk pelanggan yang baru tiba. Selesai melayani, Beduak merebahkan dirinya di sebelahmu sembari menyodorkan sepiring buah Siwalan dan sebotol tuak. Kamu melihat sekilas lalu menolak

​“Tidak ada gelas bambu seperti tiga tahun lalu, Beduak?” tanyamu.

​Dahi laki-laki itu terlipat. “Ini di Jakarta, bukan di Tuban. Lagi pula jangan panggil aku Beduak. Sekarang aku bukan pemuda kampung lagi, aku sudah jadi buruh kota.”

​Kelakar yang menyeruput kecanggungan di antara kamu dan Beduak mendadak larut. Kamu mulai terbiasa menatap dalam-dalam sorot mata Beduak, seperti dulu.

​“Habis kamu nggak mau memberitahu namamu.” Kamu protes sembari mencomot daging putih kenyal di piring lalu melahapnya. Cipratan air nira memenuhi mulut, rasa segar itu membawamu kembali pulang ke Tuban.

​“Harun.” Laki-laki itu bergumam singkat. “Itu namaku. Jangan tanya nama panjang karena cuma itu namaku.”

​Kamu tersedak karena tak kuat menahan tawa. “Namaku juga terlalu singkat. Cuma Narai. Ya, jangan tanya kenapa? Mungkin orang tuaku agak malas waktu itu.”

​Beduak itu menyeringai. Ikut-ikutan mencomot daging Siwalan yang nyaris habis.

​“Bagaimana kamu bisa terdampar di sini?” tanyamu bingung. “Bukankah kamu ingin jadi petani tuak, menyadap pohon Siwalan, berjualan legen di pinggir jalan?”

​Kamu melirik laki-laki itu, kamu ingat pertemuan pertama dengannya. Saat itu kamu tersesat di Tuban karena keras kepala ingin menelusuri jejak petani Siwalan. Naasnya kamu malah terpisah dari rombongan ekstrakulikuler pecinta alam dan berakhir berjalan gagu di sepanjang jalan raya. Lalu tiba-tiba seorang pemuda lusuh memanggilmu dan menyuruh menenggak sekantong plastik es legen sambil duduk di teras rumahnya. Mungkin ia iba melihatmu berkeringat, pucat, dan mirip orang gila. 

​“Es legen yang kamu berikan di hari itu sangat manis. Rasanya masih kuingat sampai hari ini.”

​“Rasa manis yang kemudian membuatmu jatuh cinta pada tuak dan Tuban? Sampai enggan pulang saat rombonganmu menjemput dengan panik?”

​Kamu terkikik geli. Lalu melirik Beduak dengan seringai kecil. “Mungkin juga rasa manis yang membuatku jatuh cinta padamu.”

​Pengakuan terang-terangan itu membuat Beduak kikuk, senyumnya rikuh. Kamu tergagap kemudian, merasa bodoh setelah membocorkan rasa di masa lalu yang masih terpendam. Beduak bernama Harun itu cengar-cengir di sebelahmu. Untungnya nyanyian Pasar Baru yang ramai berhasil menyembunyikan debar jantungmu.

​“Jatuh cinta itu seperti ngunduh tetese wolo.” Kamu mengalihkan pembicaraan dengan berdiri dan memperagakan orang menyadap getah nira. “Yang artinya memungut tetesan nira dari tangkai tandan bunga Siwalan yang disadap.”

​Beduak memangku dagu dengan telapak tangan. Diam-diam tersenyum memperhatikan tingkah anehmu.

​“Benar, kan?” Kamu nyengir dan memamerkan gigi. “Sebetulnya aku nggak paham apa itu cinta? Dulu Vincent, laki-laki populer yang aku cintai hanya mengajariku tentang cinta monyet. Sebenarnya nggak adil, sih. Vincent itu sudah ganteng, tajir, ketua OSIS, kapten tim basket pula.”

​Kamu berhenti sebentar lalu mencak-mencak. “Nggak adil banget, kan? Vincent itu sempurna, jelas kalau arti cinta yang dia tahu adalah cinta yang sempurna juga. Dia itu bagai tokoh utama novel-novel remaja, jelas kalau arti cinta yang ia tahu adalah halusinasi buat cewek bermuka pas standar dan nggak populer sepertiku.”

​Beduak mengangguk, mencoba menghargai keluh kesahmu. “Kurasa kamu nggak benar-benar mencintai Vincent.”

​“Kamu cuma mabuk. Seperti pasukan Tar-Tar dari Tiongkok yang diajak minum sama prajurit Raden Wijaya dari Majapahit sampai mabuk. Pasukan musuh berhasil dikalahkan karena tuak dan kurasa cinta juga bisa dikalahkan dengan tuak.”

​Kamu terpana, menatap laki-laki yang usianya hanya terpaut satu tahun lebih tua darimu. Pelan, kamu merasakan kembali berdiri di Tuban dan menghirup aroma tuak.

​“Itu asal mula tradisi minum tuak.” Ia melanjutkan. “Omong-omong, sedang apa kamu di Pasar Baru. Dulu kamu bilang nggak suka berpetualang di Jakarta, kan?”

​Kamu merenggangkan tangan lalu kembali duduk. “Memang lebih enak merantau. Tapi aku terdampar di sini gara-gara tugas jurnalistik organisasi kampus. Dan sialnya nggak ada toko yang sudi menerima wawancaraku.”

​“Menyedikan sekali.” Beduak menanggapi, lalu tertawa mengelak. “Bercanda.”

​Kamu memberangut lalu pelan bergumam. “Aku ingin menulis liputan tentang cinta. Cinta yang menyatu dengan budaya. Apa ada cinta yang seperti itu, Beduak?”

​Beduak tak pikir panjang, ia langsung mengangguk. “Tentu saja ada. Pikirmu tuak itu bukan cinta?”

​Senyummu merangkak naik sampai menyelimuti wajah. “Mungkin. Sebab untuk pertama kalinya aku merasakan cinta yang berbeda ketika berkenalan denganmu dan tuak.”

​“Kalau begitu, tulis saja kisah tentang noto awak, tradisi nitik, dan bolo ngombe.” Beduak mengusulkan dengan bersemangat. “Itu akan jadi liputan yang luar biasa.”​

​Tepuk tanganmu riuh, berbaur dengan suara klakson dan obrolan pedagang lain di Pasar Baru. Tapi tiba-tibakegelisahan merundungmu. 

​“Aku jadi bertanya-tanya. Mengapa buruh-buruh itu masih setia minum tuak. Padahal rasanya pahit dan panas di tenggorokan? Dan mengapa pula mereka nggak memilih minum es legen yang jelas-jelas manis?”

​Pertanyaan yang terlontar itu menyulut senyum cerah di garis bibir Beduak.

​“Karena bagi mereka tuak adalah cinta yang sesungguhnya. Cinta yang pahit dan membuat tubuh panas. Cinta yang kadang memabukkan saat diminum terlalu banyak.”

​Hunusan mata Beduak menerawang awan. Kamu terenyuh, mungkin Beduak teringat akan Tuban. Mungkin pertanyaanmu telah menjadi nostalgia.

​“Kamu tahu? Para Beduak yang setia meminum tuak adalah pekerja-pekerja kasar. Mereka akan minum tuak sebelum bekerja agar badan bertenaga. Sambil kumpul-kumpul mengeratkan tali persaudaraan antar sesama peminum tuak. Tuak yang mengandung alkohol akan menghangatkan badan dan hati mereka lebih cepat dari bahan lain. Itu yang membuat mereka mengerti tentang cinta sejati.”

​Kamu merajut senyum. Tradisi itu bernama bolo ngombe, tradisi yang membuatmu jatuh cinta pada kemurahan dan kesederhaan cinta di setiap centak air tuak. 

​“Begitulah cinta,” tutup Beduak sembari menyodorkan sepotong buah Lontar padamu. “Bagaimana pelajaran tentang cinta dari seorang pedagang buah Lontar?”

​Kamu tergelak dalam tawa. “Cukup menginspirasi dan agak menggelikan.”

​“Bohong banget.” Beduak menyambar dengan seringai lebar yang membuat lekuk matanya terbenam dan tertekuk menyerupai bulan sabit.

​Kamu menerima potongan terakhir buah Lontar lalu mencelupkannya ke dalam mulut yang penuh air liur. Perasaan cinta langsung bertebaran bagai kupu-kupu magis di mulutmu. Sementara senja merah sempurna tenggelam di langit Jakarta. Membawamu dan Beduak menyaksikan datangnya pekat malam. Petikan gitar yang berganti genjrengan melumuri kesan dramatis di perjumpaan keduamu dengan Beduak. Kamu dan dia saling menatap, entah dengan maksud apa. Tapi kamu berharap tetesan cinta yang disadap kemegahan Pasar Baru jatuh ke dalam hatimu dan hatinya.

​“Ada kotoran di wajahku?” tanya Beduak gugup, mengusap mukanya.

​“Nggak.” Kamu menggeleng tak kalah gugu. “Aku hanya berpikir sepertinya kita akan terus bertemu dalam beberapa hari ke depan. Karena aku akan terus meliput bahan feature di Pasar Baru. Asyik sekali ‘kan kalau begitu?”

​Beduak termenung. Lalu senyum cerianya menjadi getir. “Sayang sekali. Ini hari terakhirku berjualan di Pasar Baru. Besok aku akan merantau ke Bali karena diterima kuliah jurusan hukum. Beasiswa langka dan kesempatan ini nggak boleh aku sia-siakan. Iya, kan?”

​Aliran segar buah Lontar mendadak terasa pahit di lehermu. Kamu hanya bisa tersenyum, kedanti rasa panas mulai menyesakkan dadamu.

​“Jujur saja, aku agak takut membayangkan hidupku di sana.” Beduak menyahut kebisuan di antaramu dengannya. “Bali adalah kota asing bagiku. Entah hidupku berakhir manis atau pahit di sana. Aku tak bisa menebak sama sekali.”

​“Iya. Memang nggak boleh disia-siakan.” Kamu menanggapi rentetan kalimat pertama Beduak, sambil meringkuk dan memeluk lutut. “Begitu pula dengan cinta. Nggak ada yang tahu bagaimana akhir dari proses panjang itu. Mungkinkah manis? Atau malah pahit? Nggak tertebak sama sekali.”

​Beduak mengacaukan gumpalan sedih yang berseru-seru dari bibirmu. Kamu dan dia saling menatap lagi, enggan melepas tautan kendati cinta itu telanjur menetes sempurna.

​“Karena nggak semua cinta berakhir manis di lidah kita.” Beduak tersenyum.

​Kamu malah tertawa, meluruhkan kesedihan di tengah-tengah dua hati yang kasmaran. “Ya. Karena nggak semua cinta berakhir manis di lidah kita.”

***

0
Share
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Selamat Datang!

BengkelSastra.com

Selamat datang di situs Bengkel Sastra. Di sini Anda akan menemukan informasi seputar sastra dan budaya. Anda juga dapat melihat hasil karya dari anggota Bengkel Sastra seperti puisi, cerpen, dan lainnya.

Follow Us

  • google+
  • youtube
  • twitter
  • instagram
Bengkel Sastra. Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

  • GORESAN TAKDIR
      Goresan Takdir Dika Amalia Lutfiana Kau tahu tidak? Ternyata orang yang paling bahagia bukan yang bergelimang harta Bukan pula orang yang ...
  • Sajak Kereta Api
    Sajak Kereta Api Oleh: Nunung Asmawati Kabin disesaki koper-koper yang lebam Seseorang duduk tenang memangku kelam Di dalam kopernya ada lim...
  • ZIARAH
    Ziarah Anggun Nuke Arsita Sempat kau berlari menjemput tepian ketika kau dalam genangan kau ditawari teduh yang terseduh namun kau tanggalka...

Twitter

Tweets by @bengsas

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Copyright © 2015 Bengkel Sastra

Created By ThemeXpose