Pages

  • Portfolio
  • Disclaimer
  • Privacy Policy
youtube google+ twitter instagram
Bengkel Sastra

  • Home
  • Profil
    • Tentang Kami
    • Kontak
    • Kepengurusan
  • Berita
    • Sastra
    • Budaya
  • Kategori
    • Puisi
    • Ulasan
      • Puisi
      • Cerpen
      • Naskah Drama
      • Novel
      • Film
      • Pertunjukkan Teater
    • Cerpen
    • Naskah Drama
    • Pementasan Teater
  • Info Acara
  • Karya

AM

Delia Putri Amanda


Kopi dan kertas-kertas di atas meja pukul dua dini hari

dingin, kuseruput, pelan kuhabisi

Barangkali sudah kucampurkan hitam itu dikopi dingin pukul dua

pagi

Barangkali pena di jariku malah bertinta air kopi


Entah, tapi

kopi-kopi dan kertas pukul dua pagi

atau tiga, atau empat dini hari

terasa sama dinginnya dengan hati

aku, yang masih bersama kopi-kopi dan kertas-kertas disini

dan tinta, dan pena, dan kopi-kopi

lagi, kuteguk semuanya malam ini

1
Share

 Gelung Kelakar

Ainun Syafira


Malam-malam beringsut

Kudapati jiwa-jiwa terlelap tetapi bukan mati


Menari diawang-awang mimpi bersama kerumunan rasa

Sedang jiwaku, menyelinap masuk ke lorong-lorong kenangan


Pungut memungut kenangan cendayan yang telah lama terjerat arus waktu

Kudapatibayang-bayangkenangan,dimanakerumunanrasasalingbercakapriang


Dibawah naungan langit beralaskan tanah jiwaku, jiwanya, dan jiwa-jiwa mereka menyatu bersama riuh-riuh lelucon dan gelagak tawa


Sungguh!!!tiada panorama nan cendayan bagi jiwaku, tidak juga mereka dan tidak

juga kau!!!

Kala jiwaku hadir menyaksikan segaris senyum dan gelagak tawa merekah indah di wajah mereka yang kian hari semakin menua bersama arus waktu


Bima,02 Januari 2022

0
Share

 Antara Tuhan, Aku dan Rebahan

Oleh Adriansyah


Kuucapkan terima kasih

Kepada engkau yang memberi kasih

Perihal kasih yang kau beri tak terganti

sekedar memberi informasi


Bahwa Ratih menangis di pojok kamar kata sinetron yang monoton

Malih bergurau dengan bolot menghasilkan tawa si kolot

Berita dan koran mengabari ada si kecil yang susah move on

Memberitahukan semuanya hanya perihal sorot


Layar kaca menampilkan semua ocehan

Orang-orang berbincang perihal kenangan

Aku melakukan rebahan

Hal kecil tentang kesenangan


Jakarta, 2022

0
Share

TINGGAL

KARYA NUR ANDINI SETIAWATI


 sejauh apapun berkelana

kesanalah aku akan kembali

sejenuh apapun merasa

disanalah tempat yang aku singgahi


pundaknya adalah tempat berbagi keluh kesah

tempat dimana aku melepas segala lelah

tempatku berteriak menyampaikan segala amarah

tempatku meredam segala resah


tetapi aku sadar

segalanya telah lama memudar

kini ia layaknya sebuah rumah kosong

ada, namun hampa tak tertolong


akankah kau semakin jauh selepas ini?

yang berhenti berpuisi dalam nestapa pagi

berhenti dalam rasamu yang perlahan mati

atau mungkin kisah ini terlalu dini untuk kau mengerti


haruskah aku meninggalkan

atau kuperbaiki agar kembali tentram

haruskah aku mengulang awalan

atau ku bubuhkan sebuah titik pada malam yang temaram

0
Share

Maturasi dan Asmaraloka

Karya: Putri Dhiaz Aldisa


Tertatih-tatih, tersungkur hingga letih

Terseok-seok, tetapi terus saja diolok-olok

Bagai anjing yang kehilangan induk

Anak semesta itu berjalan di atas daun kelor

Dineschara namanya, kekasih Tanachandra

Berjalan di atas daun kelor

Bagaikan maturasi tiada henti

Bangkit, pamit

Pasrah, tetapi tak menyerah


Asmaraloka Dineschara dan Tanachandra

Bagai nirwana di ujung pandang

Walau badai datang menerjang,

Mereka abadi, takkan pernah terganti


Dineschara berkata,

Jika Rahwana saja dapat menemukan Shinta di dalam sukmanya,

Maka, kau dapat temukan aku dalam sesal matimu


Rasa-rasanya, tak ada kata sesal dalam kisah asmaraku

Maturasi dan Asmaraloka,

Kayu dan api,

Rintik hujan dan lautan,

Dineschara dan Tanachandra,

Kini, kau mengerti, kan?

Mengapa kata “kita” itu tercipta?


Sampai jumpa, Tanachandra

Aku harus kembali ke rahim semesta

Kau abadi dalam relung sukmaku

Tapi diriku, abadi dalam sesal matimu

0
Share

Gejolak rindu

Oleh: Renaldi Saputra


Rindumu yang sampai,

Rindumu yang tabah,

Rindumu yang suci,

Yang kau dambakan pada cakrawala.


Simpan saja sedihmu itu ...


Rindumu ...

Kini sampai padaku.

Menghujam tepat didadaku.

Rasamu berperan dalam sanubari.


Duhai engkau yang diam membisu ...


Airmataku puisi.

Sebagai perantara kerinduanku.

Dilarik-larik sajakku dan sajakmu.

Aku menemukanmu dalam diriku.

Sebagai penawarnya.


Bacalah!


Aku melihat wajahmu.

Sajakku bernyawa tentangmu.

Aku mendengar suaramu.

Sajakku terbalaskan darimu.


Bacalah!


Sajakku merapalmu ...

Yang aku wujudkan dalam bentuk aksara.

Sebagai pelipur lara dari kerinduan.


Sebab bagiku,

Soal rindu bukan perkara jarak,

melainkan kesatuan rasa.

Pertemuan ataupun perpisahan.

Bukanlah masalah jika tidak ada rasa.


Aku tetap memahatmu dalam diriku.

Mengenggam erat hati yang terikat.

Memeluk mesra jiwamu yang gelisah.

Dengan airmata cinta.

0
Share

 KEMANA

Karya: Romi Afinyuda


Beku, hampa, dan kosong

Tak tau kemana harus melangkah

Sampai tiba di suatu titik

Titik sadar bahwa telah jauh melangkah tanpa arah

Titik yang dapat melihat jejak kaki yang ditinggalkan

Jauh.....

sangat jauh untuk jalan melangkah...

Tanpa kompas, tanpa petunjuk, tanpa komando, dan tanpa aba-aba

Semuanya Hilang...

Sirna dengan sekejap mata

Melangkah ke depan akan bertemu dengan samudra ganas

Mundur ke belakang akan masuk dalam jurang dalam

Melihat ke kanan dan kiri akan ada hutan gelap dengan pohon besar mencekam

Lihat!Lihatlah bayangan itu

Bayangan itu semakin besar

Besar dan terus membesar

Hitam menakukan

Hitam besar yang akan membinasakan apapun yang ditemuinya.

Lari! larilah dengan sekuat tenaga yang tersisa

Tapi harus kemana.....

jika didepan samudra ganas, jika di belakang jurang dalam, dan jika di kanan dan kiri

hutan gelap.

Bukannya sama saja akan binasa?

Lantas, kemana harus berlari?

Dimana tempat aman untuk bersembunyi?

Entahlah

Sepertinya titik ini, titik terakhir dalam perjalanan

Titik terakhir, dalam teks cerita panjang, Cerita tentang hilangnya akal dalam pikiran

Sepertinya ini titik terakhir untuk merencanakan kemana seharusnya melangkah

Melangkah hingga netra menangis melihat tujuan akhir yang selama ini dicari

Kemana harus menuju?

Apakah melewati samudra itu?

Ataukah masuk ke dalam jurang itu?

Atau lewat hutan itu?

Atau mungkinkah disini dititik ini adalah tujuan akhir? Yang mungkin tidak disadari

Sungguh membingungkan berjalan tanpa adanya arah


Pembuat Jejak - 01-01-2022

0
Share
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

Selamat Datang!

BengkelSastra.com

Selamat datang di situs Bengkel Sastra. Di sini Anda akan menemukan informasi seputar sastra dan budaya. Anda juga dapat melihat hasil karya dari anggota Bengkel Sastra seperti puisi, cerpen, dan lainnya.

Follow Us

  • google+
  • youtube
  • twitter
  • instagram
Bengkel Sastra. Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

Twitter

Tweets by @bengsas

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Copyright © 2015 Bengkel Sastra

Created By ThemeXpose